Kamis, 13 September 2012

puisiku yang menjadi juara 1 lomba penulisan puisi PEKSIMIDA JATENG tahun 2012


Aku masihlah Indonesia[1]
            : Catatan Buat Emak
1/
Di hari kesekian, tanggal kesekian, bulan kesekian, dan tahun kesekian
Aku masihlah Indonesia, mengenalkan diri dengan dada membusung
Menanggalkan duka yang sesak di dada, meski detak degub jantungku kini lebih rintih dari
Biasanya, yah, akulah Indonesia, dan orang-orang menodong kepalaku sambil
Berkata “malu aku jadi bangsa Indonesia !!!”, tapi tidak denganku, Emak.
Aku ingat dongeng-dongeng yang kau jadikan pengantar tidurku setiap malam
Tentang teriakan-teriakan rakyat pribumi yang mengemis kemerdekaan, tentang
Airmata yang menggenangi pertiwi, tentang bau anyir darah yang keluar dari
Tubuh-tubuh penuh nganga luka.
Emak, ceritamu itu membuatku merinding, betapa besar pengorbanan para leluhur negeri
Yang telah menuliskan sejarah dengan darah yang mereka sumpat dari urat nadi mereka,
Dalam lembaran-lembaran hari yang penuh nestapa.
Emak, ini salah siapa? Jika negeri tak lagi seperti sediakala.

2/
Sepertinya negeri ini negeri airmata, Emak. Betapa duka menjadi penggalan paling
dramatis dari kesekian fragmen hidup kita, Emak. Betapa nasionalisme hanya bersarang di
buku-buku sejarah Pendidikan Dasar.  Betapa hukum-hukum agama hanya tersampul
pada pengajian-pengajian dari masjid ke masjid, dari gereja ke gereja, dari kuil ke kuil,
dari vihara ke vihara, dari klenteng ke klenteng.
Selebihnya hanya sebagai ideologi saja, tanpa ada wujud dalam laku dan kata.
Emak, aku sakit ketika membaca berita-berita yang menjadi headline di koran-koran,
tentang airmata yang tak berkesudah,  airmata pengemis yang hidupnya selalu saja tragis,
airmata pedagang yang lapaknya digusur habis, airmata si miskin yang hidupnya selalu miris,
airmata para pekerja di negara tetangga yang sepulang bekerja pastilah membawa tangis,
juga airmata orang-orang  yang tersaingi para penguasa kapitalis, para petani yang
lahannya dirampas pengauasa agraris, dan keresahan negeri
yang selalu ditebar para teroris.
Emak, adakah yang lebih perih dari kesakitan ini? melihat negeri menjadi sedemikian ngeri.
Orang-orang berorasi di depan gedung-gedung pemerintahan tentang revolusi, tapi rasa
Cinta kepada negeri saja mereka tak mengerti.
Emak, kenapa pula teka-teki di halaman belakang koran itu makin saja misteri?
tentang masa depan yang tak mampu diterawang. Kenapa pula orang-orang lebih suka
membaca ramalan bintang?
Apakah mereka tak lagi percaya kepada Tuhan?

3/
Emak, aku merasakan Indonesia seperti anak kecil yang baru belajar menulis,
yang hanya memiliki sebuah pensil, lalu ketika ada coretan di lembaran hidupnya,
maka meminjam penghapus ke sana-ke mari kepada yang lain. Dan jika tulisan itu telah
diselesaikannya, ia terbata-bata membacanya. lalu seorang guru dari Negeri tetangga
membantu mengajarinya cara mengeja,
oh emak...seperti itukah Indonesia saat ini?
Rumah kita yang beratapkan langit biru menjulang seantara Sabang hingga Merauke,
Dengan dinding kebudayaan yang amatlah beragam, yang jika ada tetangga kita mengakui
Memilikinya, mereka—orang-orang yang pandai berorasi itu—langsung naik pitam
dan seolah-olah berjuang mengambilnya, dengan nasionalisme yang bersarang
pada bibir-bibir mereka semata.
Juga dengan hamparan rumput hijau menjadi alas tempat pembaringan kita,
tempat bersujud  dengan Segenap doa di dada. Tempat kita memacu jantung
dengan harapan yang kita tanam selama ini, Emak.

4/
Emak, aku ingat pesanmu, dahulu, ketika kita masih bisa mencangkuli ladang-ladang
kita dengan harapan, Menanam biji-biji padi di sawah-sawah di belakang rumah kita
dengan doa, yang kini berdiri bangunan-bangunan tinggi menjulang,
mencakar langit, hingga mengucurkan hujan yang
aroma anyir, seperti darah yang perlahan keluar dari nadi-nadi rakyat-rakyat miskin.
“nak, besok tak ada lagi anak-anak yang bercanda riang di sini
Menerbangkan layang-layang dengan wajah penuh tawa”, katamu.
Dan saat aku bertanya, “kenapa emak?”, kau tak juga menjawab,
kau hanya membelai rambutku
Dan sesekali gerimis jatuh dari mata sayumu, aih, Emak.
Ataukah kini ucapmu benar-benar nyata?

5/
Di hari kesekian, tanggal kesekian, bulan kesekian dan tahun yang juga masih kesekian
Aku masih juga Indonesia, Emak. jika diperkenankan semesta, maka, akupun akan berteriak
“kembalikan Indonesia kepadaku!!!” sebagaimana yang dikatakan Taufik Ismail
dalam puisinya yang aku baca di buku Bahasa Indonesia belasan tahun lalu, Emak.
Meski pada akhirnya, aku terpojokkan kepada pertanyaan sulit, sebenarnya siapa yang
Merebut Indonesia dari kita, Emak?
Bukankah mereka sendiri kini tak pernah mengawali tidur dengan dongeng-dongeng
sejarah? Bagaimana mereka tahu kalau negeri ini bukanlah negeri mimpi?

6/
Emak, sejarah memanglah setumpuk daun-daun kering yang memenuhi
pelataran masa silam, yang selalu kita mencoba menyapunya dengan airmata,
tetapi waktu berbicara sesuai apa yang ia  kehendaki, biarpun berlawanan dengan apa
maumu-mauku, waktu tetaplah berbicara lantang
Hingga, pada akhirnya kita terbungkam saat semesta menyenandungkan sabda,
Dan kita tak mampu juga menerjemahi harakatnya, Emak.
Tapi, sejarah juga setumpuk telur yang jika kita erami dengan segenap doa,
maka akan menetas harapan dari rahim malam. Sebelum usai kau membacakan
cerita-cerita pengantar tidur,
Sebelum aku beranjak menengadahkan doa dalam sembahyang.

7/
Emak, jika burung-burung masih mengicaukan kesedihan negeri,
maka lebih baik kututup saja sangkar dalam batinku ini, untuk berteriak memekakan
semesta, tentang kebahagiaan yang masih bias warnanya,
Lantas kita punguti daun-daun yang jatuh di pelataran rumah kita,
dan kita menenunnya dengan air mata, lalu kita buat layang-layang darinya,
kita terbangkan, agar cakrawala
Mendengar rintih doa yang belum ada jawabnya.
Aku akan ikhlas menjadi batu-batu di sungai kepedihan, yang tetap menemani lumut
Kesetiaan menunggui arus menyudahi langkahnya, hingga mimpi kita tentang negeri ini
akan bermuara kapada Laut yang sering kau kisahkan padaku,



8/
Emak, aku ingin menjelma kata-kata dalam bait-bait lagu perjuangan, agar setiap
Anak-anak sekolah menyanyikannya, aku merasakan indahnya kesakitan karena cinta,
Biarlah, airmata tetap sebagai airmata,
Untuk negeri ngeriku, Indonesia.

                                    Pondok Pena, 21 Mei 2012.


[1] Puisi ini menjadi Juara 1 dalam Peksimida XI tangkai lomba penulisan puisi, yang diadakan oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Jawa Tengah tahun 2012.

Kamis, 19 Januari 2012

puisiku dimuat di majalah MISYKAT Edisi 70 Januari 2012

Lautan kalam

Rembulan memerah tangispun memecah
Seumpama sekeping luka memancarkan duka
Tampak tangan-tangan bertengadah di atas tanah
Memanggil tanpa kata, bersuara dalam airmata

(Sementara aku merangkai kembali puing-puing rumah
                        Yang telah ambruk dikikis gerimis
Dengan setumpuk doa yang tersisa di dada)

Hujan ini mungkin luapan rindu yang berapi-api
Hingga airmata terlumatkan gemuruhnya, dan
Angin tak juga memberiku kabar
Ke alamat mana kau kan berpulang?

Atau barangkali telah kau temukan surga yang
Serpihan cahayanya berjatuhan dari tangisan doa,
Lalu kau melukiskan sampan di atas awan kelam
; untuk berlayar dalam
Kalam Tuhan.

Surau Cinta,31 mei 2011


Sajadah cinta

Tetesan embun membangunkan sujudku.
Padahal ingin berlama-lama aku mengecup wajah tuhan,
Yang landai penuh dengan
                         dahan-dahan kalam
Menghangatkan sepinya sebuah pencarian.

Aku menamainya sajadah cinta.
Cahaya berlari-lari di tepiannya
Seperti sayap kupu-kupu yang
Mengitari rindunya perjumpaan.

Surau Cinta, maret 2011

Dzikir Bunga

Seusai sembahyang embun
Aku bersujud di atas rerumputanMu

 Hujan datang  mengusap mukaku
Dan  kutemui:Wajahku
 Telah menyatu dengan cahayaMu
Yang berbunga


Surau Cinta,Jan2011

Jumat, 25 November 2011

puisi yang memenuhi 1 box kolom puisi rubrik sastra koran MERAPI edisi 20 November 2011


Gadis Bersampan
                                ; Pemecah Ombak Waduk Penjalin

Gadis bersampan, berjalan di dalam pusaran angin yang embun.
Matanya menerobos kabut yang menutupi hatiku,

Ketika fajar belum sempurna bertelanjang, gadis bersampan
Lebih dahulu membenarkan kerudungnya, lalu
Lengannya yang salju menuju dayung-dayung yang telah lama
Membuatku rindu.
                                    “Gadis bersampan”
Begitulah namanya yang melintasi lamunanku sore ini,
Biasanya tepat matahari menuju ujungnya, ia pulang dengan
Menjinjing tas berisikan impian-impiannya,
Berisikan lamunannya,berisikan
Mimpinya yang menghadirkanku.
                                    “Gadis bersampan”
Begitulah biasanya aku sebut-sebut namanya, tersebab ia
Tak pernah sekalipun berpaling dari terik kerinduan
Dan aku menemukan rambut panjangnya telah basah di atas sebuah sampan.
Sampan yang mengajakku untuk menuju rumahnya, lalu
Aku berharap di dalam semoga.
                                    “Gadis bersampan”
Begitulah selalu aku menyeka namanya dalam hatiku
Yang kabut. Tak pernah sekalipun ia berhenti dari
Perjalanan mimpi yang ombaknya tak berkawan.
Hingga keringatnya mengkristal,                   
Jatuh,
            Memenuhi permukaan segara
Mengendap-endap dalam ombak
                                    Mendekap mimpi di dalam dayung
                                                Berkilauan, dan
                                                            Bola mataku berkilap
Tak kuasa aku  menatap cahaya, Gadis bersampan.
                        Paguyangan, juni 2011



















                        Kabut
                                    Sepanjang  Jalan  Menuju  Kali Gua
Aroma fajar
Pudar, melebur bersama
Dingin embun yang
Paling. Kau tabuh genderang rindu yang membuncang !
Kepada siapa alamat kau bersurat sebenarnya?

Adakah aku yang kau tuju?
Padahal  aku belum kau kenal betul.

Dalam kaca yang buram tersebab embun
Yang rindang, ku temukan
Namamu tertulis dalam sekaanku
Diatas daun talas yang
Menampung puisi-puisi pagi.

Aroma fajar
Hilang, ke entah mana.
Dingin kembali bersapa
Riang dengan celotehan-celotehan
 Beburung pagi yang
Mengatasnama Cinta.

Dan, Aku menemukan rindu
Dalam kabut yang selimut.
                        Paguyangan , mei 2011
Senja di lorong jembatan
            :Brug Saka Limalas

Senja ini, ada warna yang
Hilang dari pelangi yang berkibar
Di Langit Bumiayu

Hujan tak lagi merintikkan cahaya
Yang apabila berjumpa dahan basah
Berkeliplah bola mata yang selama ini
Terpaut  cinta

Ilalalang pun kehilangan hijaunya
Tidak mampu lagi
Menari bersama angin

Senja kehilangan lembayung orangenya
Seperti aku yang kehilangan namamu
Yang memupus menjadi metafora puisi.

Bumiayu, feb2011






Dalam kuasa senja
            ; Menuju Bumijawa

Dalam pengembaraanku di bukit puisi,
Tampak sebuah istana megah
Menyeruakan do’a dan cinta

Bersama angin kita membagi semerbak mawar
Yang dahulu kau mengajariku
Untuk menanamnya

Terik tak jadi soal sepanjang langkah kita
Pepohonan yang menyebut-nyebut nama kekasih
Menjelma teman dalam mimpi kita yang dingin

Dan, bayangan kita memunguti daun-daun jatuh
Yang mengembunkan warna surga,
Sepanjang lorong mata kita,

: Saat Pelangi dan gerimis bercinta
 dalam kuasa senja.

Tegal, Maret 2011


Rabu, 02 November 2011

puisi pendek


Ingin
                Kepada Aulia Nur Inayah
Izinkan aku membaca puisi yang tertulis di jilbabmu,
Yang kata-katanya mencahaya
Mata tajammu,
Nyampai bibirku layu,
Semua rindu kan lebur dalam lagu.
Senja, des2010

DO’A
            Kepada Abdul Wachid  B.S.
Di penghujung  senja, aku menanti
Ombak  menyapu  bayang
Agar sampai aku  pada cahaya.
Senja,Jan2011

Sabda Angin
; DR.K.H. Moh. Roqib,M.Ag
Daun-daun seketika itu menjadi kering,
 Menamatkan riwayat ke pangkuan bumi.
 Menunggu hujan yang jatuh
Merintikkan doa.
Senja,feb2011





Ikhtiar
                Bersama penyair Arif Hidayat
Disetiap dayungku  mengarungi  samudra puisi
Nama kekasih selalu hadir
Menjadi buih-buih yang putih.

walaupun rindu ini tak juga berlabuh
hatiku tak mungkin separuh
menemani kesetiaan yang selalu ku tabuh.
Senja,feb2011

Rabu, 26 Oktober 2011

PUISI Romantis


Janji

Saat langit mengelupas
Kau temui aku didalamnya
Bersama serpihan cahaya yang
Bangkit dari masa lalu

Kita memetik hari-hari
Dalam berderang langit

Senja,2010

Pupus

Di pintu fajar yang mawar
Kutemui bekas langkah yang
Tak lagi menjajar.
Lalu rintik hujan
Jatuh membasahi mukanya
Menggenang;membawa
Hilang bayang.

Senja,17 n0p 2010



Senja terakhir

Sepucuk mawar yang  tanggal
Di tepian pintu senja
Kelopaknya gontai
Bertaburan, meninggalkan
Cahaya yang
Tengah padam.

Senja,17 nop 2010

Semoga

Kuarung-arungi sajalah
Garis airmu,
Lantas dayung mencukupi arusnya,,
Hingga sampan tak
Lagi tertahan untuk melabuhkan tuannya,
Kau dan aku
Berdoa dalam semoga.

Senja,10.12.2010,




Ingin

Izinkan aku membaca puisi yang tertulis dijilbabmu,
Yang kata-katanya mencahaya
Mata tajammu,
Nyampai bibirku layu,
Semua rindu kan lebur dalam lagu.

Senja,8des2010
Rindu

Dua purnama tanpa lilin
Nafasku terasa terisak
Sebab cahaya tak mampu aku temui
Di dalam Rindu

Senja,Jan2011
DO’A

Di tepian  senja,aku menanti
Ombak  menyapu  bayang
Agar sampai aku  pada cahaya.

Senja,Jan2011





Dzikir Bunga

Seusai sembahyang embun
Aku bersujud di atas rerumputanMu

 Hujan datang  mengusap mukaku
Dan  kutemui:Wajahku
 Telah menyatu dengan cahayaMu
Yang berbunga

Senja,Jan2011
Sebuah penantian

Anganku berlari-lari kecil
Menerobos awan, mengajak angin
Terbang ke sana ke mari
Mencari bayangan kekasih.

Senja ,2011
Meditasi katak

Dalam hujan yang tak berangin,
Seekor katak berdiam dalam pesujudan panjang
Menunggui pelangi yang belum juga
Menampakkan batang hidungnya
Dan saat air menetes di kelopak matanya
Ia masih dalam diam
Bahkan, mengencangkan tasbihnya.

Senja,2011



Di ujung perjumpaan

Sebab angin yang datang
Begitu kencang
Selembar daun terlepas dari dekapan
Dahan
Menyisakan getah
Yang masih basah.

Senja, feb 2011
Namamu

Dalam gerimis yang anginnya
Terkikis rindu,
Do’a  turut hadir
Menggeliat dalam sunyi,yang
Heningnya mengingatkan namamu.

Senja,feb 2011








Lingkar cahaya

Dalam lingkar cahaya,yang
Sungai mengalir di tepiannya.
Aku melihat seyum do’a di dalam
Matamu yang berbinar.

Senja,feb2011


Sabda Angin

Daun-daun seketika itu menjadi kering,
 Menamatkan riwayat ke pangkuan bumi.
 Menunggu hujan yang jatuh
Merintikkan doa.

Senja,feb2011

Penggembala kata

Sudah berpuluh kali ku terangkan
Aku bukanlah seorang pangeran
Yang selalu sembahyang
Dengan doa berpanjang-panjang.

Aku hanyalah seorang penggembala kata
Siang, sore aku mencari-cari abjad
Untuk kubawa tidur, di dalam sajak

Senja, feb 2011.




epilog

Seusai hujan tumbang, aku
Menyaksikan senja
Tengah berpelukan dengan cahaya.

Senja, maret 2011




Di pertengahan jalan
menuju hatimu

Kembali aku mengikuti garis airmu
Agar usai terik ini pada penghabisan.
Hingga langit akan
Mengurai senyum
Melihat awan yang tak lagi gersang.

Senja, maret 2011



Rongeng Dukuh Paruk; Antara Mitos dan Pesan Dalam Sastra
Banyak definisi sastra tatkala masing-masing sastrawan mencoba memberi makna terhadap proses kreatifnya sebab karya sastra mewujud dikarenakan semacam “laku” seorang sastrawan. Ia inheren dengan proses hidup sastrawan, karenanya ketika dalam hidupnya terjadi perubahan makna dari peristiwa yang diindera olehnya, dengan begitu makna yang pernah dikemukakan akan mengalami perubahan atau perkembangan. Sama halnya dengan definisi kebudayaan, selalu dimulai dan diakhiri dengan proses. Itulah pasalnya, kita belajar untuk mau mengerti, bahkan menilai baik, terhadap perubahan yang bermakna perkembangan dari karya sastra satu ke karya sastra yang lain, yang merupakan buah seorang sastrawan.
Karya sastra dapat kita persepsi dan posisikan sebagai suatu yang hidup dan bersentuhan dengan realitas sosialnya, dan merupakan bagian penting dari kebudayaan jamannya. Itulah yang dilakukan Ahmad Tohari, melalui karya sastranya, membahasakan pengamatannya—mengenai kebudayaan—dengan jalan tulisan. Ini seperti yang dikatakan A. Teeuw Bahwa sastra dikembalikan kepada makna etimologisnya adalah tulisan.  Kemudian mengingatkan saya pada Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya berjudul Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (1997) mengatakan bahwa menulis—sebagaimana yang dilakukan Tohari—merupakan suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana (Seno,1997:110).
Ahmad Tohari dalam karya-karyanya baik cerpen maupun novel, memiliki latar lingkungan hidup. Dunia pedesaan yang lugu, kumuh, bodoh, dan alami oleh Tohari diungkap secara menarik dan provokatif sehinga menunjukkan adanya keindahan, kedamaian, keharmonisan dan kejujuran sekaligus kepedihan yang menyayat, pemberontakan, konflik dan perdamaian.
Meski kebanyakan karya Tohari memiliki latar alam dan kehidupan desa, tetapi menurut Sapardi Djoko Damono bisa saja dunia ciptaan Tohari itu menjadi bagian yang sah dari kebudayaan Populer, sama dengan karya sastra populer lain yang umumnya berlatar kota besar. Hal ini disebabkan Ahmad Tohari bisa memoles tokoh, latar, dan peristiwa rekaannya (yang memilki dasar faktual historis) itu sedemikian rupa sehinga “indah”, skematis, dan gamblang. Ini yang kemudian Tohari tidak serta merta menuliskan—dalam novelnya Rongeng Dukuh Paruk—apa yang terjadi pada kesugguhan fakta, mengingat dalam menulis tentu seorang penulis tidak langsung membahasakan referensi bacaannya secara utuh, tetapi membubuhi dengan imajinasi baru yang mampu membuat sebuah tulisan lebih memiliki ruh—tidak sekedar menulis apa adanya, lantas apa bedanya novel dengan tulisan Sejarah?—.
Maka saya menganggap wajar, ketika Tohari dalam Rongeng Dukuh Paruk (RDP)nya meniadakan cerita makam Pangeran Samudro dan Dewi Ontrowulan dengan mitos “percintaannya”. Penulis berhak penuh mendesain karyanya agar sesuai dengan apa yang menjadi tujuan penciptaannya.
Dalam ini, Tohari ingin menyampaikan nilai budaya Profetik, maka akan sangat kontradiktif manakala dalam RDP diceritakan tentang mitos “bercinta” di area makam wingit—sebagai sebuah ritual—akan mendatangkan keberkahan dengan terwujudnya harapan seorang peziarah. Dengan menyimpangkan cerita—mengganti dengan makam Ki Secamenggala yang dikisahkan sebagai sesepuh yang sangat menyukai Rongeng—maka cerita akan lebih intergratif.
Tohari, dalam bebagai karyanya, merefleksikan secara simbolis budaya populer atau budaya kerakyatan yang sarat dengan nilai budaya profetik (kuntowijoyo, 1996:236). Menurut kuntowijoyo, budaya profetik memilki tiga Pilar yaitu amar ma’ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi), dan iman billah (transendensi).
Sebagai seorang yang terlahir dan dibesarkan di lingkungan santri, Tohari memegangi agama Islam tidak lepas dari tradisi lokal (jawa) sehingga muatan budaya lokal dalam berbagai karyanya amat jelas terbaca. Kepercayaan pra-islam pada masyarakat jawa yang Animis, Dinamis, Hindu dan Budha tetap dipandang Tohari dalam pandangan adat dan tradisi kebudayaan yang memiliki kearifan lokal (local wisdom) yang tidak akan dibongkar dan diberangus jika tidak bertentangan dengan ajaran islam (al-akhlaq al-karimah). Sinkretisme dan kepercayaan mistik tidak diposisikan sebagai bid’ah yang bertentangan  dengan Islam tetapi diposisikan sebagai tradisi yang masih bisa diislamkan dan memberi manfaat, sekecil apa pun manfaat tersebut bagi kemanusiaan.
Sebagaimana kebanyakan para ahli antropologi, Tohari berpendapat bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa mitos atau mitologi. Mitos diperlukan manusia dalam mencari kejelasan tentang alam lingkungannya dan sejarah masa lampaunya sebagai pelukisan atas kenyataan-kenyataan—yang tak terjangkau, baik relatif maupun mutlak—dalam format yang disederhanakan dan mudah dipahami. Itulah mengapa Tohari masih membubuhkan mitos di dalam karyanya. Hanya saja, ada sedikit penyimpangan—lagi-lagi untuk memperkuat tujuan penciptaan sebuah karya—.
Mitos, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat diartikan sebagai Cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandund penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia dan bangsa tersebut, mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib (Gramedia;2008).
Tohari memaparkan dengan gamblang bagaimana “ki Secamenggala”, leluhur masyarakat Dukuh Paruk menjadi rujukan perilaku masyarakat desa terkait dengan ronggeng, perilaku ritual dan sosial, dan perjuangan akan kehormatannya. Pencitraan “ki secamengala” menjadi referensi poetika yang mengisyaratkan kepatuhan masyarakat terhadap sebuah mitos, yang akhirnya membawa kebaikan baik bagi ronggeng maupun masyarakat Dukuh Paruk  itu sendiri. Dan mitos ini menjadi penguat ruh kejawen, biarpun yang diangkat adalah masalah budaya profetik. Jika saja yang diangkat adalah “makam Pangeran Samudro dan Dewi OntorWulan”, maka mungkin masyarakat akan mengikuti tradisi “percintaan” di area makam—sebagai wujud kepatuhan masyarakat jawa terhadap leluhur mereka—, dan cerita menjadi ganjil. Tidak ada hubungan antara Srintil yang berjuang dengan Rongengnya, Ronggeng Dukuh Paruk itu sendiri dan kebiasaan masyarakat jawa nguri-nguri budaya nenek moyang.
Sebaliknya Mitos “percintaan” sebagai ritual tidak sesuai dengan budaya profetik yang menjadi latar RDP. Budaya Profetik melalui pilar ransendensinya, mengarahkan manusia untuk mendekatkan diri dengan tuhannya (taqorrub), bukan malah melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran islam.